Pages - Menu

Senin, 18 Maret 2019

KEDURHAKAAN BANI ISRAIL


Bani Israil adalah kaum yang banyak mendapatkan kenikmatan dari Alloh.. Selamat dari kekejaman fir’aun, dalam perjalanan menuju palestina mereka senantiasa dinaungi awan sehingga selamat dari panasnya matahari di padang pasir, memperoleh makanan manna wa salwa yaitu minuman yang nikmat dan daging burung yang didapatkan dengan sangat mudah, mendapatkan air dari mata air yang segar. Dengan kenikmatan yang diterima, Bani Israil bukannya bersyukur kepada Alloh, namun malah meminta hal lain yang tidak ada, yang nantinya mereka justru akan ditimpa kehinaan dan kemiskinan. Dan (ingatlah), ketika kamu berkata: "Hai Musa, kami tidak bisa sabar (tahan) dengan satu macam makanan saja. Sebab itu mohonkanlah untuk kami kepada Tuhanmu, agar Dia mengeluarkan bagi kami dari apa yang ditumbuhkan bumi, yaitu sayur-mayurnya, ketimunnya, bawang putihnya, kacang adasnya, dan bawang merahnya". Musa berkata: "Maukah kamu mengambil yang rendah sebagai pengganti yang lebih baik? Pergilah kamu ke suatu kota, pasti kamu memperoleh apa yang kamu minta". Lalu ditimpahkanlah kepada mereka nista dan kehinaan, serta mereka mendapat kemurkaan dari Allah. Hal itu (terjadi) karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para Nabi yang memang tidak dibenarkan. Demikian itu (terjadi) karena mereka selalu berbuat durhaka dan melampaui batas. (Al Baqoroh: 61)

#Kajian ust. Said SH, Al Muhajirin Sodo, 18-3-2019

Senin, 23 April 2018

Apakah Allah Memiliki Wajah ?

Allah ta’ala berfirman tentang diri-Nya,
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ
“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”(QS. Asy-Syuura: 11)
Syaikh Abdurrahman bin Naashir As-Sa’di rahimahullah mengatakan di dalam kitab tafsirnya, “[Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya] maknanya tidak ada yang menyerupai Allah ta’ala dan tidak ada satu makhluk pun yang mirip dengan-Nya, baik dalam Zat, nama, sifat maupun perbuatan-perbuatan-Nya. Hal ini karena seluruh nama-Nya adalah husna (paling indah), sifat-sifatNya adalah sifat kesempurnaan dan keagungan……”
Beliau melanjutkan, “[dan Dia Maha Mendengar] maknanya Dia Maha Mendengar segala macam suara dengan bahasa yang beraneka ragam dengan berbagai macam kebutuhan yang diajukan. [Dia Maha Melihat] maknanya Allah bisa melihat bekas rayapan semut hitam di dalam kegelapan malam di atas batu yang hitam……”
Beliau melanjutkan, “Ayat ini dan ayat yang semisalnya merupakan dalil Ahlu Sunnah wal Jamaah untuk menetapkan sifat-sifat Allah dan meniadakan keserupaan sifat Allah dengan sifat makhluk. Di dalam ayat ini terdapat bantahan bagi kaum musyabbihah (kelompok yang menyerupakan sifat Allah dengan sifat makhluk -ed) yaitu dalam firman-Nya:
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ
“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya.”
Juga bantahan bagi kaum mu’aththilah (kelompok yang menolak penetapan sifat Allah -ed) dalam firman-Nya
وَهُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ
“Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”
(Taisir Karimir Rahman)

Senin, 16 April 2018

Menjawab Beberapa Syubhat Seputar Sifat Istiwa

Allah Ta’ala memiliki sifat Al ‘Uluw yaitu Maha Tinggi, dan dengan ke-Maha Tinggi-an-Nya Allah ber-istiwa di atas ‘Arsy. Istiwa artinya ‘alaa was taqarra, tinggi dan menetap. Allah ber-istiwa di atas ‘Arsy artinya Allah Maha Tinggi menetap di atas ‘Arsy. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى
“Ar Rahman (Allah) ber-istiwa di atas ‘Arsy” (QS. Thaha: 5).
Pembahasan serta dalil-dalil lengkap mengenai masalah ini silakan simak artikel Sifat Istiwa’ Allah di Atas ‘Arsy.
Namun aqidah ini diingkari oleh sebagian orang. Mereka mengingkari bahwa Allah memiliki sifat Al ‘Uluw Maha Tinggi dan mereka juga mengingkari bahwa Allah ber-istiwa di atas ‘Arsy. Mereka mendasari keyakinannya tersebut dengan beberapa alasan, diantaranya:
Syubhat 1
Mereka mengatakan bahwa makna istiwa itu adalah istaula (menguasai), sebagaimana dalam sya’ir:
قَدْ اسْتَوَى بِشْرٌ عَلَى الْعِرَاقِ    مِنْ غَيْرِ سَيْفٍ أَوْ دَمٍ مِهْرَاقِ
Bisyr menguasai Irak
Tanpa menggunakan pedang atau menumpahkan darah

Selasa, 17 Oktober 2017

Boleh Jadi Kamu Membenci Sesuatu

وَعَسَىٰ أَن تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَن تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu
Ini adalah penggalan dari ayat ke 216 dari surat al Baqarah, yaitu yang lengkapnya:
كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَن تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَن تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.
Ayat ini berisi tentang kewajiban untuk berjihad atas kaum muslimin (Tafsir Ibnu Katsir, hlm. 270), sebagaimana dikatakan az Zuhri: “jihad itu diwajibkan atas semua orang (Islam)”. Kewajiban jihad dan jihad itu sendiri adalah sesuatu yang berat karena harus melakukan perjalanan yang jauh, berhadapan dengan musuh yang dapat mengakibatkan orang terluka dan terbunuh, sehingga apa yang ada di dalam hati manusia ketika mendengar kewajiban ini adalah sebagaimana dituturkan di lanjutan ayat tersebut: “padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci”.
Kalimat: “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu” adalah kesimpulan dari ayat tentang perang tersebut yang memiliki nilai pelajaran yang besar. Seolah-olah ayat ini mengajarkan kita “boleh jadi kamu benci perang yang diwajibkan atasmu, sedangkan sebenarnya itu baik untukmu”. Ini bertepatan dengan penjelasan Allah di dalam ayat yang lain, di surat an Nisa’ ayat 19:
فَإِن كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَىٰ أَن تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا

Selasa, 10 Oktober 2017

SUATU MALAM DI KUBURAN


Suatu malam di kuburan…
Ikhwan : “Lho…koq kita malah kemari?”
Quburiyyun : “Iya…mampir sebentar. Ada sedikit keperluan?”
Ikhwan : “Ada keperluan apa di kuburan malam2 begini?…”
Quburiyyun : “Besok kita kan mau pergi safar mendaki gunung, jadi kita perlu ziarahkemari.”
Ikhwan : “Memang apa hubungannya pergi safar dengan ziarah kubur?”
Quburiyyun : “Ya ada. Supaya kepergian kita nanti lebih selamat dan dimudahkan Allah.”
Ikhwan : “Wah tidak boleh itu. Kalau ingin selamat dan dimudahkan kenapa tidak berdoa langsung kepada Allah? Kenapa harus ada acara ziarah kubur?”
Quburiyyun : “Ziarah kubur itu dianjurkan dalam Islam, banyak dalilnya. Jangan sepertiWahhabi yang melarang ziarah kubur.”
Ikhwan : “Memang ziarah kubur dianjurkan dalam Islam dan banyak dalilnya. Lagipula Wahhabi tidak mutlak melarang ziarah kubur. Yang dilarang adalah ziarah kubur yang menyelisihi syariat.”
Quburiyyun : “Seperti apa ziarah kubur yang syar’i?”
Ikhwan : “Kita sebatas mengucapkan salam kepada penghuni kubur dan mendoakannya, selain itu untuk mengingatkan kita kepada kematian.”

KISAH UWAIS AL-QORNI

Nama dan nasab beliau. Beliau adalah Uwais bin Amir bin Jaz-un bin Malik al-Qorni, al-Muradi, al-Yamani. Nama qunyah beliau adalah Abu Amr, beliau adalah suri teladan dalam kezuhudan, beliaulah salah satu dari pemimpinnya para tabi’in pada zamannya.
Keterasingannya pada penduduk bumi dan kemasyhurannya pada penduduk langit
Beliau seorang wali dari wali-wali Allah yang bertaqwa kepada penciptanya, berbakti kepada orang tuanya, sehingga tidaklah heran jikalau Allah Ta’ala memujinya di kalangan penduduk langit, Demikian juga Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengkabarkan tentang kemuliaan dan kedudukannya kepada sebagian para shahabatnya, walaupun kebanyakan manusia di zamannya tidak mengenal dan bahkan lebih dari itu mengucilkan dan menghinakannya.Berikut beberapa riwayat yang menceritakan tentang kisahnya:
Diriwayatkan dari Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu dia berkata: “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sebaik-baik tabi’in adalah seorang lelaki yang dipanggil Uwais, dia mempunyai seorang ibu, dan padanya terdapat tanda putih (di bawah pundaknya –red), maka suruhlah dia untuk memintakan ampun bagi kalian.(HR. Muslim).
Diriwayatkan dari Usair bin Jabir, bahwa penduduk Kufah mengirim beberapa utusan, dari utusan yang diutus ada seorang yang menghina Uwais, maka Umar berkata: “Apakah ada seseorang yang berasal dari suku Qorni”, maka datanglah laki-laki tersebut, maka Umar berkata kepadanya: “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya ada seorang laki-laki akan datang kepada kalian dari Yaman, yang dipanggil dengan Uwais, tidaklah dia meninggalkan di Yaman selain ibunya, dia pernah tertimpa penyakit kusta (belang), dan kemudian dia berdoa kepada Allah (agar disembuhkan) maka Allah menghilangkan penyakit itu darinya dan tersisa (dari penyakit itu -red) sebesar dinar atau dirham, barangsiapa yang bertemu dengannya dari kalian, maka mintalah dia untuk memohonkan ampunan bagi kalian”. (HR. Muslim)

Sabtu, 24 September 2016

Shalahuddin al-Ayyubi

tikritKali ini kita akan bercerita tentang seorang laki-laki mulia dan memiliki peranan yang besar dalam sejarah Islam, seorang panglima Islam, serta kebanggaan suku Kurdi, ia adalah Shalahuddin Yusuf bin Najmuddin Ayyub bin Syadi atau yang lebih dikenal dengan Shalahuddin al-Ayyubi atau juga Saladin. Ia adalah seorang laki-laki yang mungkin sebanding dengan seribu laki-laki lainnya.

Asal dan Masa Pertumbuhannya
Shalahuddin al-Ayyubi adalah laki-laki dari kalangan ‘ajam (non-Arab), tidak seperti yang disangkakan oleh sebagian orang bahwa Shalahuddin adalah orang Arab, ia berasal dari suku Kurdi. Ia lahir pada tahun 1138 M di Kota Tikrit, Irak, kota yang terletak antara Baghdad dan Mosul. Ia melengkapi orang-orang besar dalam sejarah Islam yang bukan berasal dari bangsa Arab, seperti Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Tirmidzi, dan lain-lain.
Karena suatu alasan, kelahiran Shalahuddin memaksa ayahnya untuk meninggalkan Tikrit sehingga sang ayah merasa kelahiran anaknya ini menyusahkan dan merugikannya. Namun kala itu ada orang yang menasihatinya, “Engkau tidak pernah tahu, bisa jadi anakmu ini akan menjadi seorang raja yang reputasinya sangat cemerlang.”

Senin, 25 April 2016

KUMPULAN DOA DARI AL QUR'AN DAN HADITS

KUMPULAN DOA 
(Dari Al Qur'an dan Hadits)


1. رَبَّنَا اغْفِرْلَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِاْلإِيْمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فِي قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِلَّذِيْنَ آمَنُوْا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوْفٌ رَحِيْمٌ
ROBBANAGHFIR LANA WALI IKHWANINALLADZINA SABAQUNA BIL-IMAN WALA TAJ’AL FI QULUBINA GHILLALLILLADZINA AMANU ROBBANA INNAKA ROUFURROHIM.
“Ya Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau tanamkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Tuhan kami sungguh Engkau Maha Penyantun, Maha Penyayang.” (Al-Hasr: 10)
2. وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِينَ
ROBBIGHFIR WARHAM WA-ANTA KHOIRURROHIMIN.
“Ya Tuhanku berilah ampunan dan rahmat, Engkaulah pemberi rahmat terbaik.” (Al-Mukminun: 118)
3. رَبِّ إِنِّيْ ظَلَمْتُ نَفْسِيْ فَاغْفِرْلِيْ
ROBBI INNI THOLAMTU NAFSI FAGHFIRLI.
“Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah mendzolimi diri sendiri maka ampunilah aku.”
4. وَقُلْ رَبِّ أَعُوذُ بِكَ مِنْ هَمَزَاتِ الشَّيَاطِينِ وَأَعُوذُ بِكَ رَبِّ أَنْ يَحْضُرُونِ
ROBBI A’UDZUBIKA MINHAMAZATISY-SYAYATIN, WA-A’UDZUBIKA ROBBI AYYAHDHURUN.
“Ya Tuhanku aku berlindung kepada Engkau dari bisikan-bisikan syetan dan aku berlindung kepada Engkau ya Tuhanku agar mereka tidak mendekatiku.” (Al-Mukminun: 97-98)

Kamis, 14 Januari 2016

Kehidupan Akhirat



Bagian dari aqidah Islam yang wajib diyakini oleh setiap muslim adalah keyakinan tentang adanya kehidupan akhirat. Keyakinan ini termasuk rangkaian dari iman kepada hari akhir atau hari kiamat, dimana setelah manusia mati dan meninggalkan kehidupan dunia maka ia akan masuk ke dalam kehidupan yang disebut dengan kehidupan akhrirat.
Berikut penjelasan al qur’an tentang kehidupan akhirat:
وَالَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ وَبِالآخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ (٤)
Artinya: dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al Quran) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat.(QS. Al Baqarah: 4)
Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelum Muhammad s.a.w. ialah kitab-kitab yang diturunkan sebelum Al Quran seperti: Taurat, Zabur, Injil dan Shuhuf-Shuhuf yang tersebut dalam Al Quran yang diturunkan kepada para Rasul. Allah menurunkan Kitab kepada Rasul ialah dengan memberikan wahyu kepada Jibril a.s., lalu Jibril menyampaikannya kepada Rasul. Jadi keyakinan tentang eksistensi hari akhirat juga diajarkan oleh nabi-nabi terdahulu sebagaimana tercantum dalam kitab-kitab diatas.

Sabtu, 19 April 2014

KISAH YANG BENAR TENTANG PENYALIBAN NABI ISA AL-MASIH ‘ALAIHISSALAM MENURUT ISLAM

Allah subhanahu wata’ala berfirman (artinya):
“Dan karena ucapan mereka (orang-orang Yahudi): Sesungguhnya kami telah membunuh Al-Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah. Padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa. Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya. Dan adalah Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (An-Nisa’: 157-158)
Para pembaca, sangatlah pantas jika orang-orang Yahudi adalah sekelompok manusia yang dilaknat dan dimurkai oleh Allah subhanahu wata’ala. Perangainya yang licik dan perilakunya yang jahat menjadikan mereka sebagai umat yang hina dan rendah. Banyak ayat Al-Qur’an yang telah menjelaskan tentang watak dan sepak terjang Yahudi yang tercela ini.
Di antara kejahatan yang pernah dilakukan oleh orang-orang Yahudi adalah upaya pembunuhan terhadap salah satu nabi utusan Allah subhanahu wata’ala yang mulia, yaitu Isa Al-Masih bin Maryam ‘alaihissalam, setelah sebelumnya mereka dengki kepada beliau, mendustakan, dan tidak mau beriman kepada beliau. Begitulah Yahudi, membunuh nabi merupakan sifat dan kebiasaan mereka sejak dahulu. Kalau para nabi saja mereka bunuh, maka tentu menumpahkan darah kaum

Paman-Paman Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin dalam Syarah Al Aqidah Al Washithiyyah (411) menjelaskan:
Paman-paman Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam ada sepuluh orang. Namun yang hidup di masa Islam ada empat orang, dua orang tetap dalam kekufuran dan dua orang lagi memeluk Islam.
Yang tetap pada kekufuran yaitu:
  1. Abu Lahab. Ia telah banyak berbuat buruk kepada Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam dengan keburukan-keburukan yang besar. Bahkan Allah Ta’ala menurunkan satu surat khusus untuknya dan untuk istrinya si pembawa kayu bakar, yang mencela dan memberikan ancaman untuk mereka berdua. 
  2. Abu Thalib. Ia telah berbuat baik kepada Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam dengan kebaikan-kebaikan yang besar dan masyhur. Diantara hikmah Allah Azza Wa Jalla menetapkan Abu Thalib tetap dalam kekufuran ialah, andaikan ia tidak kafir, tidak terwujud pembelaannya terhadap Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam. Bahkan Abu Thalib akan diganggu sebagaimana gangguan yang dilancarkan kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam. Namun, dengan kedudukannya yang tinggi di sisi orang kafir Quraisy, dan ‘keistiqamahan’ Abu Thalib dalam agamanya (yang musyrik) ini menjadikan orang kafir Quraisy mengagungkannya dan juga ini menyebabkan ia dapat memberikan pembelaan kepada Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam.

Jumat, 14 Maret 2014

PENJELASAN MENGENAI APA DAN SEPERTI APA KITAB ORANG KRISTEN

Kitab Perjanjian Lama

Bibel terdiri dari dua kitab utama yaitu Kitab Perjanjian Lama (The Old Testament) dan Kitab Perjanjian Baru (The New Testament). Kitab Perjanjian Lama sering disebut sebagai Kitab TENAKH, terdiri dari tiga bagian yaitu Tora, Nebi’im, dan Ketubim.
Tora atau Taurat berarti pengajaran. Kitab Taurat ini memuat lima kitab, yaitu Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan, dan Ulangan. Nebi’im berarti kitab nabi-nabi terkemudian, yang terdiri dari kitab nabi Yesaya, Yeremia, Yehezkiel, Hosea, Yoel, Amos, Obaja, Yunus, Mikha, Nahum, Habakuk, Zefanya, Hagai, Zakaria, dan Maleakhi. Ketubim berarti pujian, terdiri dari kitab-kitab Zabur atau Mazmur, Amsal Sulaiman, Ayub, Kidung Agung, Rut, Ratapan, Pengkhotbah, Ester, Daniel, Ezra, Nehemia, Tawarikh I, dan Tawarikh II.
Meskipun umat Kristen Protestan dan Katolik Roma sama-sama mengakui Bibel sebagai kitab suci mereka, namun toh Bibel yang mereka gunakan berbeda. Bible Katolik Roma lebih tebal dibandingkan dengan Bibel Kristen Protestan karena jumlah kitab pada Kitab Perjanjian Lama Katolik Roma lebih banyak 9 buah dibandingkan yang digunakan Kristen Protestan. 9 kitab tersebut dianggap oleh Gereja Protestan tidak layak dianggap sebagai kitab suci. (Subhanallah, ini yang salah apakah karena 9 kitab tersebut sebenarnya buatan manusia biasa atau manusianya yang merasa bisa menentukan kesucianfirman Tuhan?!)

Kamis, 06 Maret 2014

SIFAT SHOLAT NABI

Secara bahasa sholat adalah ad du'a atau berdo'a, adapun secara istilahnya adalah perkataan dan perbuatan yang dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam. 
1.Apabila seseorang hendak melakukan sholat maka berdirilah jika mampu dengan menghadap kearah kiblat, pandangan tertuju dan menatap kearah tempat sujud, setelah itu bacalah takbir: "Allahu akbar" dengan mengangkat kedua tangan hingga posisi keduanya sejajar dengan bahu dan jari-jemari dirapatkan, setelah itu meletakkan kedua tangan di bawah dada dengan posisi telapak tangan kanan memegang punggung telapak tangan kiri atau pergelangan tangan kiri.
2.Kemudian membaca do'a iftitah, diantaranya:
"Allahumma baid baini wa baina khotoyaya kama baadta bainal masyriki wal maghrib, Allahumma naqqini min khotoyaya kama yunaqqos tsaubul abyadu minad danas, Allahummagsilni min khotoyaya bil ma'i was salji wal barod".
"Ya Allah,jauhkanlah antara aku dengan kesalahan-kesalahanku,sebagimana Engkau menjauhkan antara timur dan barat,Ya Allah,sucikanlah aku dari kesalahan-kesalahanku sebagimana dibersihkan kain puttih daru kotoran.Ya Allah,bersihkanlah aku dari kesalahan-kesalahanku dengan air dan salju dan embun".Setelah itu membaca taawwud atau "A'udzubillahi minas syaithonirrojim"."Aku berlindung kepada Allah dari godaan syetan yang terkutuk"

Jumat, 13 Desember 2013

PEMBAGIAN TAUHID MENJADI TIGA

Merupakan perkara yang konyol dan lucu adalah perkataan sebagian aswaja atau sebagian Jahmiyah bahwasanya pembagian tauhid menjadi tiga, (1) Tauhid Ar-Rububiyah, (2) Tauhid Al-'Uluhiyah/al-'Ubudiyah, dan (3) Tauhid al-Asmaa' wa as-Sifaat, adalah sama dengan aqidah TRINITAS kaum Nasrani yang meyakini Allah terdiri dari 3 oknum.

Yang lebih lucu lagi mereka masih terus menganggap bahwa pernyataan mereka ini adalah hujjah yang sangat kuat untuk membantah salafiyin, padahal ini adalah hujjah yang sangat konyol dan sangat…sangat…sangat…tidak nyambung. Apakah semua yang dibagi menjadi tiga sama dengan trinitas??. Akan tetapi begitulah sebagian ASWAJA yang mencari dalil apa saja yang penting bisa membantah salafiyin (Aswaja yang sesungguhnya) !!!

Pernyataan ini (bahwasanya pembagian tauhid menjadi tiga sama dengan trinitas) digembar-gemborkan oleh seorang yang bernama Hasan 'Alawi As-Saqqoof, seorang pengikut faham Jahmiyah dalam kitabnya التَّنْدِيْدُ بِمَنْ عَدَّدَ التَّوْحِيْدَ، إِبْطَالُ مُحَاوَلَةِ التَّثْلِيْثِ فِي التَّوْحِيْدِ وَالْعَقِيْدَةِ الإِسْلاَمِيَّةِ (artinya : Pengungkapan kebatilan orang yang membagi tauhid, pembatalan usaha trinitas dalam tauhid dan aqidah Islamiyah)
Beliau ini dikenal tukang dusta, terlalu banyak dusta yang ia sampaikan, bahkan berdusta dihadapan khalayak ramai (di stasiun televisi), silahkan baca (http://www.saaid.net/Doat/Zugail/303.htm), demikian juga tidak amanahnya Hasan As-Saqqoof terhadap kitab-kitab para ulama sebagaimana dibongkar oleh Muhammad Sa'id Al-Katsiiri dalam kitabnya عَبَثُ أَهْلِ الأَهْوَاءِ بِتُرَاثِ الأُمَّةِ وَوَقَيْعَتُهُمْ فِي عُلَمَائِنَا نَظْرَةٌ تَطْبِيْقِيَّةٌ فِي كُتُبِ حَسَن بْنِ عَلِي السَّقَّافِ (inti  buku ini adalah menunjukkan contoh praktek-praktek nyata ketidakamanahan Hasan As-Saqqof terhadap buku-buku para ulama, dan sikapnya yang menjatuhkan para ulama : silahkan di download di http://ia700302.us.archive.org/22/items/waq85152/85152.pdf), buku ini diberi pengantar oleh Syaikh yang alim yang juga berasal dari satu suku dengan Hasan As-Saqqoof, yaitu syaikh yang bernama Abdul Qoodir 'Alawi As-Saqqoof hafizohulloh)

Adapun buku At-Tandiid tersebut maka telah dibantah secara khusus oleh Syaikh Abdurrozzaq Al-Badr hafizohulloh dalam kitabnya الْقَوْلُ السَّدِيْدُ فِي الرَّدِّ عَلَى مَنْ أَنْكَرَ تَقْسِيْمَ التَّوْحِيْدِ (yang artinya : Perkataan yang Tepat dalam Membantah Orang yang Mengingkari Pembagian Tauhid,  silahkan didownload di http://ia701206.us.archive.org/24/items/waq34288/34288.pdf)

Untuk membantah hujjah konyol ini maka ada beberapa perkara yang perlu diperhatikan :

Kamis, 12 Desember 2013

Wajib Taat Kepada Pemimpin/Penguasa

Penjelasan tentang Ketaatan kepada penguasa merupakan salah satu dari ushul aqidah ahlussunnah wal jamaah ...
Allah Ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ أَطِيعُواْ اللّهَ وَأَطِيعُواْ الرَّسُولَ وَأُوْلِي الأَمْرِ مِنكُمْ
“Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri (penguasa) di antara kalian.” (QS. An-Nisa`: 59)
Dari Ibnu Umar radhiallahu anhuma dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa beliau bersabda:
عَلَى الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ السَّمْعُ وَالطَّاعَةُ فِيمَا أَحَبَّ وَكَرِهَ إِلَّا أَنْ يُؤْمَرَ بِمَعْصِيَةٍ فَإِنْ أُمِرَ بِمَعْصِيَةٍ فَلَا سَمْعَ وَلَا طَاعَةَ
“Wajib atas setiap muslim untuk mendengar dan taat (kepada penguasa), baik pada sesuatu yang dia suka atau benci. Akan tetapi jika dia diperintahkan untuk bermaksiat, maka tidak ada kewajiban baginya untuk mendengar dan taat.” (QS. Al-Bukhari no. 7144 dan Muslim no. 1839)
Dari Abdullah bin Amr bin Al-Ash radhiallahu anhuma dia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
وَمَنْ بَايَعَ إِمَامًا فَأَعْطَاهُ صَفْقَةَ يَدِهِ وَثَمَرَةَ قَلْبِهِ فَلْيُطِعْهُ إِنْ اسْتَطَاعَ فَإِنْ جَاءَ آخَرُ يُنَازِعُهُ فَاضْرِبُوا عُنُقَ الْآخَرِ
“Dan barangsiapa yang berbaiat kepada seorang pemimpin (penguasa) lalu bersalaman dengannya (sebagai tanda baiat) dan menyerahkan ketundukannya, maka hendaklah dia mematuhi pemimpin itu semampunya. Jika ada yang lain datang untuk mengganggu pemimpinya (memberontak), penggallah leher yang datang tersebut.” (HR. Muslim no. 1844)
Penjelasan ringkas:
Ketaatan kepada penguasa merupakan salah satu dari ushul aqidah ahlissunnah wal jamaah, yang jika diselisihi maka akan mengeluarkan pelakunya dari ahlussunnah. Hal ini ditunjukkan oleh amalan dan ucapan para ulama salaf yang mana mereka menyebutkan permasalahan ini dalam kitab-kitab aqidah ahlussunnah yang mereka tulis.
Imam Ahmad rahimahullah berkata dalam risalah Ushul As-Sunnah, “Wajib untuk mendengar dan taat kepada para pemimpin dan amirul mukminin, baik dia orang yang baik maupun orang yang jahat.”

Sabtu, 23 November 2013

Dzikir Dengan Suara Pelan

Ketika sang guru ditanyakan tentang dalil dzikir jama'ah setelah shalat fardhu, lalu jawab sang guru; "dalilnya memang tidak ada, namun diantara faidah dari dzikir dengan dipimpin itu agar yang belum bisa dzikir jadi bisa, artinya sebagai pengajaran. Jawabannya sih simpel, cuman terasa pedas bagi yang bisa menafsirkan perkataan sang guru tersebut.

Jawaban tersebut secara tidak langsung menghina orang yang mengikuti dzikir berjama'ah, dalam artian jama'ahnya tidak paham-paham alias bebal, sehingga tiap selesai shalat fardhu diajarin terus, padahal jama'ahnya ada yang sudah tua, masa iya sih sampai tua harus diajarin melulu, kapan bisanya, sampai masuk keliang lahat pun kita lihat mereka masih aja diajarin, siapa Rabb-mu dst.

Kemudian, sudah cara dzikirnya tidak sesuai dengan sunnah, hal tersebut diperparah pula dengan dilakukan dengan suara nyaring, dan hal itu membuat orang yang shalat masbuk jadi terganggu. Dan secara tidak langsung, mereka yang melakukan dzikir dengan suara keras tersebut tidak mempercayai ayat-ayat dalam kitab suci mereka, lantas apa bedanya dengan agama Syi'ah la'natullah yang mengatakan Al Qur'an yang ada ditangan umat islam sekarang ini palsu, karena banyak mengalami perubahan.

Jumat, 09 Agustus 2013

Silabus Program Belajar Tauhid Jarak Jauh at-Tarbiyah

Berikut ini adalah gambaran silabus pelajaran tauhid yang akan diterapkan dalam kegiatan belajar tauhid jarak jauh Program at-Tarbiyah.

Semester I: 23 Materi
Materi Pengantar
  1. Empat Kewajiban Setiap Insan [sumber: Tsalatsat al-Ushul]
  2. Tiga Ciri Kebahagiaan [sumber: al-Qawa'id al-Arba']
  3. Urgensi Ilmu Sebelum Beramal [sumber: Tsalatsat al-Ushul]
  4. Hakikat Millah Ibrahim [sumber: al-Qawa'id al-Arba']
  5. Hakikat dan Kedudukan Tauhid [sumber: Kitab at-Tauhid]
Dasar-Dasar Ilmu Tauhid Bagian 1
  1. Makna Kalimat Syahadat [sumber: Tsalatsat al-Ushul]
  2. Kaitan Ibadah Dengan Tauhid [sumber: al-Qawa'id al-Arba']
  3. Larangan Beribadah Kepada Selain Allah [sumber: Tsalatsat al-Ushul]
  4. Hakikat dan Bahaya Syirik [sumber: Kitab at-Tauhid]
  5. Tauhid Rububiyah dan Pengakuan Kaum Musyrikin Terhadapnya [sumber: al-Qawa'id al-Arba']
  6. Konsekuensi Rububiyah Allah [sumber: Tsalatsat al-Ushul]
  7. Kaitan Tauhid Rububiyah dan Tauhid Uluhiyah [sumber: Tsalatsat al-Ushul]
  8. Keutamaan Tauhid dan Penghapusan Dosa [sumber: Kitab at-Tauhid]
  9. Merealisasikan Tauhid [sumber: Kitab at-Tauhid]

Senin, 13 Mei 2013

KEMAMPUAN-KEMAMPUAN YANG DIBERIKAN ALLAH KEPADA JIN

Oleh: Pustaka Ukhuwah Solo Dua

Allah telah memberikan kepada jin kemampuan-kemampuan yang tidak diberikan kepada manusia. Sebagian kemampuan tersebut di antaranya ialah:

a). Mampu bergerak dan berpindah dengan sangat cepat.
‘Ifrit dari golongan jin pernah berjanji kepada Nabi Sulaiman Alaihissallam untuk menghadirkan singgasana Ratu Saba di Yaman ke Baitul Maqdis hanya dalam waktu seseorang berdiri dari duduknya; sebelum mata berkedip. Dalam Al Qur`an Allah berfirman, yang artinya : Berkata ‘Ifrit (yang cerdik) dari golongan jin: “Aku akan datang kepadamu dengan membawa singgasana itu kepadamu sebelum kamu berdiri dari tempat dudukmu. Sesungguhnya aku benar-benar kuat membawanya lagi dapat dipercaya” Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari Al Kitab: “Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip”. Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, dia pun berkata:

 “Ini termasuk karunia Rabb-ku…… ”. [An Naml : 39-40].

b). Mendahului manusia dalam mencapai ruang angkasa.
Sudah sejak lama jin mampu naik ke tempat-tempat di langit dunia, lalu di sana mereka mencuri dengar berita-berita langit untuk mengetahui peristiwa sebelum terjadinya. Tatkala Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam diutus, maka langit diperketat penjagaannya. Allah berfirman, yang artinya :  

Dan sesungguhnya kami (para jin) telah mencoba mengetahui (rahasia) langit, maka kami mendapatinya penuh dengan penjagaan yang kuat dan panah-panah api, dan sesungguhnya kami dahulu dapat menduduki beberapa tempat di langit itu untuk mendengar-dengarkan (berita-beritanya). Tetapi sekarang barangsiapa yang (mencoba) mendengar-dengarkan (seperti itu), tentu akan menjumpai panah api yang mengintai (untuk membakarnya). [Al Jin:8-9].

Sabtu, 11 Mei 2013

PERKATAAN IMAM EMPAT TENTANG KEBERADAAN ALLAH

►Berkata Abu Hanifah :
“Siapa yang mengatakan : Saya tidak mengetahui Rabbku apakah Dia di langit atau di bumi, maka dia kafir, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala mengatakan:

ﺍﻟﺮَّﺣْﻤَﻦُ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﻌَﺮْﺵِ ﺍﺳْﺘَﻮَﻯ
“(Rabb) Yang Maha Pemurah, Yang bersemayam di atas `Arsy.” (QS. Thoha : 5) 

dan Arsy-Nya di atas tujuh langit”. Maka Abu Muti’ Al-Hakam bin Abdillah Al-Balkhy mengatakan kepada beliau : “(Bagaimana hukumnya) Apabila ada yang mengatakan bahwa Allah di atas Arsy istiwa` akan tetapi dia mengatakan bahwasanya saya tidak mengetahui apakah Arsy itu di langit atau di bumi ?”, beliau mengatakan : “Dia kafir sebab ia mengingkari akan keberadaannya di atas langit, karena sesungguhnya Allah Ta’ala berada di atas tempat yang paling tinggi dan Dia dimintai (do’a) dari atas dan bukan dari bawah”. (Lihat : Al-Fiqhul Akbar riwayat Abu Muthi’ hal. 40-44, Al-‘Uluw hal. 101-102 dan Mukhtashor Al-‘Uluw hal. 126)

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah setelah membawakan atsar ini : “Pada perkataan Abu Hanifah -di sisi para shahabatnya- yang masyhur ini (terkandung pengertian) bahwa ia mengkafirkan orang yang tawaqquf (tidak menentukan sikap) yaitu orang yang mengatakan : “Saya tidak mengetahui Rabbku apakah di langit atau di bumi”, maka bagaimana lagi (hukumnya) terhadap oyang yang

Kamis, 09 Mei 2013

10 Sahabat Nabi Yang Dijamin Masuk Surga

Ada sepuluh orang dari sahabat Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم yang dijamin pasti masuk ke dalam surga. Nama-nama mereka tersebut di dalam hadits yang shahih berikut ini:

عن عبد الرحمن بن عوف قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: أبو بكر في الجنة وعمر في الجنة وعثمان في الجنة وعلي في الجنة وطلحة في الجنة والزبير في الجنة وعبد الرحمن بن عوف في الجنة وسعد في الجنة وسعيد في الجنة وأبو عبيدة بن الجراح في الجنة

“Dari Abdurrahman bin ‘Auf, dia berkata: Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda: Abu Bakr di surga, Umar di surga, Utsman