Pages - Menu

Senin, 18 Maret 2019

KEDURHAKAAN BANI ISRAIL


Bani Israil adalah kaum yang banyak mendapatkan kenikmatan dari Alloh.. Selamat dari kekejaman fir’aun, dalam perjalanan menuju palestina mereka senantiasa dinaungi awan sehingga selamat dari panasnya matahari di padang pasir, memperoleh makanan manna wa salwa yaitu minuman yang nikmat dan daging burung yang didapatkan dengan sangat mudah, mendapatkan air dari mata air yang segar. Dengan kenikmatan yang diterima, Bani Israil bukannya bersyukur kepada Alloh, namun malah meminta hal lain yang tidak ada, yang nantinya mereka justru akan ditimpa kehinaan dan kemiskinan. Dan (ingatlah), ketika kamu berkata: "Hai Musa, kami tidak bisa sabar (tahan) dengan satu macam makanan saja. Sebab itu mohonkanlah untuk kami kepada Tuhanmu, agar Dia mengeluarkan bagi kami dari apa yang ditumbuhkan bumi, yaitu sayur-mayurnya, ketimunnya, bawang putihnya, kacang adasnya, dan bawang merahnya". Musa berkata: "Maukah kamu mengambil yang rendah sebagai pengganti yang lebih baik? Pergilah kamu ke suatu kota, pasti kamu memperoleh apa yang kamu minta". Lalu ditimpahkanlah kepada mereka nista dan kehinaan, serta mereka mendapat kemurkaan dari Allah. Hal itu (terjadi) karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para Nabi yang memang tidak dibenarkan. Demikian itu (terjadi) karena mereka selalu berbuat durhaka dan melampaui batas. (Al Baqoroh: 61)

#Kajian ust. Said SH, Al Muhajirin Sodo, 18-3-2019

Senin, 23 April 2018

Apakah Allah Memiliki Wajah ?

Allah ta’ala berfirman tentang diri-Nya,
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ
“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”(QS. Asy-Syuura: 11)
Syaikh Abdurrahman bin Naashir As-Sa’di rahimahullah mengatakan di dalam kitab tafsirnya, “[Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya] maknanya tidak ada yang menyerupai Allah ta’ala dan tidak ada satu makhluk pun yang mirip dengan-Nya, baik dalam Zat, nama, sifat maupun perbuatan-perbuatan-Nya. Hal ini karena seluruh nama-Nya adalah husna (paling indah), sifat-sifatNya adalah sifat kesempurnaan dan keagungan……”
Beliau melanjutkan, “[dan Dia Maha Mendengar] maknanya Dia Maha Mendengar segala macam suara dengan bahasa yang beraneka ragam dengan berbagai macam kebutuhan yang diajukan. [Dia Maha Melihat] maknanya Allah bisa melihat bekas rayapan semut hitam di dalam kegelapan malam di atas batu yang hitam……”
Beliau melanjutkan, “Ayat ini dan ayat yang semisalnya merupakan dalil Ahlu Sunnah wal Jamaah untuk menetapkan sifat-sifat Allah dan meniadakan keserupaan sifat Allah dengan sifat makhluk. Di dalam ayat ini terdapat bantahan bagi kaum musyabbihah (kelompok yang menyerupakan sifat Allah dengan sifat makhluk -ed) yaitu dalam firman-Nya:
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ
“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya.”
Juga bantahan bagi kaum mu’aththilah (kelompok yang menolak penetapan sifat Allah -ed) dalam firman-Nya
وَهُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ
“Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”
(Taisir Karimir Rahman)

Senin, 16 April 2018

Menjawab Beberapa Syubhat Seputar Sifat Istiwa

Allah Ta’ala memiliki sifat Al ‘Uluw yaitu Maha Tinggi, dan dengan ke-Maha Tinggi-an-Nya Allah ber-istiwa di atas ‘Arsy. Istiwa artinya ‘alaa was taqarra, tinggi dan menetap. Allah ber-istiwa di atas ‘Arsy artinya Allah Maha Tinggi menetap di atas ‘Arsy. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى
Ar Rahman (Allah) ber-istiwa di atas ‘Arsy” (QS. Thaha: 5).
Pembahasan serta dalil-dalil lengkap mengenai masalah ini silakan simak artikel Sifat Istiwa’ Allah di Atas ‘Arsy.
Namun aqidah ini diingkari oleh sebagian orang. Mereka mengingkari bahwa Allah memiliki sifat Al ‘Uluw Maha Tinggi dan mereka juga mengingkari bahwa Allah ber-istiwa di atas ‘Arsy. Mereka mendasari keyakinannya tersebut dengan beberapa alasan, diantaranya:
Syubhat 1
Mereka mengatakan bahwa makna istiwa itu adalah istaula (menguasai), sebagaimana dalam sya’ir:
قَدْ اسْتَوَى بِشْرٌ عَلَى الْعِرَاقِ    مِنْ غَيْرِ سَيْفٍ أَوْ دَمٍ مِهْرَاقِ
Bisyr menguasai Irak
Tanpa menggunakan pedang atau menumpahkan darah

Selasa, 17 Oktober 2017

Boleh Jadi Kamu Membenci Sesuatu

وَعَسَىٰ أَن تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَن تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu
Ini adalah penggalan dari ayat ke 216 dari surat al Baqarah, yaitu yang lengkapnya:
كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَن تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَن تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.
Ayat ini berisi tentang kewajiban untuk berjihad atas kaum muslimin (Tafsir Ibnu Katsir, hlm. 270), sebagaimana dikatakan az Zuhri: “jihad itu diwajibkan atas semua orang (Islam)”. Kewajiban jihad dan jihad itu sendiri adalah sesuatu yang berat karena harus melakukan perjalanan yang jauh, berhadapan dengan musuh yang dapat mengakibatkan orang terluka dan terbunuh, sehingga apa yang ada di dalam hati manusia ketika mendengar kewajiban ini adalah sebagaimana dituturkan di lanjutan ayat tersebut: “padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci”.
Kalimat: “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu” adalah kesimpulan dari ayat tentang perang tersebut yang memiliki nilai pelajaran yang besar. Seolah-olah ayat ini mengajarkan kita “boleh jadi kamu benci perang yang diwajibkan atasmu, sedangkan sebenarnya itu baik untukmu”. Ini bertepatan dengan penjelasan Allah di dalam ayat yang lain, di surat an Nisa’ ayat 19:
فَإِن كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَىٰ أَن تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا

Selasa, 10 Oktober 2017

SUATU MALAM DI KUBURAN


Suatu malam di kuburan…
Ikhwan : “Lho…koq kita malah kemari?”
Quburiyyun : “Iya…mampir sebentar. Ada sedikit keperluan?”
Ikhwan : “Ada keperluan apa di kuburan malam2 begini?…”
Quburiyyun : “Besok kita kan mau pergi safar mendaki gunung, jadi kita perlu ziarahkemari.”
Ikhwan : “Memang apa hubungannya pergi safar dengan ziarah kubur?”
Quburiyyun : “Ya ada. Supaya kepergian kita nanti lebih selamat dan dimudahkan Allah.”
Ikhwan : “Wah tidak boleh itu. Kalau ingin selamat dan dimudahkan kenapa tidak berdoa langsung kepada Allah? Kenapa harus ada acara ziarah kubur?”
Quburiyyun : “Ziarah kubur itu dianjurkan dalam Islam, banyak dalilnya. Jangan sepertiWahhabi yang melarang ziarah kubur.”
Ikhwan : “Memang ziarah kubur dianjurkan dalam Islam dan banyak dalilnya. Lagipula Wahhabi tidak mutlak melarang ziarah kubur. Yang dilarang adalah ziarah kubur yang menyelisihi syariat.”
Quburiyyun : “Seperti apa ziarah kubur yang syar’i?”
Ikhwan : “Kita sebatas mengucapkan salam kepada penghuni kubur dan mendoakannya, selain itu untuk mengingatkan kita kepada kematian.”

KISAH UWAIS AL-QORNI

Nama dan nasab beliau. Beliau adalah Uwais bin Amir bin Jaz-un bin Malik al-Qorni, al-Muradi, al-Yamani. Nama qunyah beliau adalah Abu Amr, beliau adalah suri teladan dalam kezuhudan, beliaulah salah satu dari pemimpinnya para tabi’in pada zamannya.
Keterasingannya pada penduduk bumi dan kemasyhurannya pada penduduk langit
Beliau seorang wali dari wali-wali Allah yang bertaqwa kepada penciptanya, berbakti kepada orang tuanya, sehingga tidaklah heran jikalau Allah Ta’ala memujinya di kalangan penduduk langit, Demikian juga Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengkabarkan tentang kemuliaan dan kedudukannya kepada sebagian para shahabatnya, walaupun kebanyakan manusia di zamannya tidak mengenal dan bahkan lebih dari itu mengucilkan dan menghinakannya.Berikut beberapa riwayat yang menceritakan tentang kisahnya:
Diriwayatkan dari Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu dia berkata: “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sebaik-baik tabi’in adalah seorang lelaki yang dipanggil Uwais, dia mempunyai seorang ibu, dan padanya terdapat tanda putih (di bawah pundaknya –red), maka suruhlah dia untuk memintakan ampun bagi kalian.(HR. Muslim).
Diriwayatkan dari Usair bin Jabir, bahwa penduduk Kufah mengirim beberapa utusan, dari utusan yang diutus ada seorang yang menghina Uwais, maka Umar berkata: “Apakah ada seseorang yang berasal dari suku Qorni”, maka datanglah laki-laki tersebut, maka Umar berkata kepadanya: “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya ada seorang laki-laki akan datang kepada kalian dari Yaman, yang dipanggil dengan Uwais, tidaklah dia meninggalkan di Yaman selain ibunya, dia pernah tertimpa penyakit kusta (belang), dan kemudian dia berdoa kepada Allah (agar disembuhkan) maka Allah menghilangkan penyakit itu darinya dan tersisa (dari penyakit itu -red) sebesar dinar atau dirham, barangsiapa yang bertemu dengannya dari kalian, maka mintalah dia untuk memohonkan ampunan bagi kalian”. (HR. Muslim)

Sabtu, 24 September 2016

Shalahuddin al-Ayyubi

tikritKali ini kita akan bercerita tentang seorang laki-laki mulia dan memiliki peranan yang besar dalam sejarah Islam, seorang panglima Islam, serta kebanggaan suku Kurdi, ia adalah Shalahuddin Yusuf bin Najmuddin Ayyub bin Syadi atau yang lebih dikenal dengan Shalahuddin al-Ayyubi atau juga Saladin. Ia adalah seorang laki-laki yang mungkin sebanding dengan seribu laki-laki lainnya.

Asal dan Masa Pertumbuhannya
Shalahuddin al-Ayyubi adalah laki-laki dari kalangan ‘ajam (non-Arab), tidak seperti yang disangkakan oleh sebagian orang bahwa Shalahuddin adalah orang Arab, ia berasal dari suku Kurdi. Ia lahir pada tahun 1138 M di Kota Tikrit, Irak, kota yang terletak antara Baghdad dan Mosul. Ia melengkapi orang-orang besar dalam sejarah Islam yang bukan berasal dari bangsa Arab, seperti Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Tirmidzi, dan lain-lain.
Karena suatu alasan, kelahiran Shalahuddin memaksa ayahnya untuk meninggalkan Tikrit sehingga sang ayah merasa kelahiran anaknya ini menyusahkan dan merugikannya. Namun kala itu ada orang yang menasihatinya, “Engkau tidak pernah tahu, bisa jadi anakmu ini akan menjadi seorang raja yang reputasinya sangat cemerlang.”